Jadwal Buka : Setiap Hari Pagi: 06.00 - 13.00, Siang: 14.00 - 20.00

0263 513513

ARTIKEL

Beranda / Artikel

Hipertensi (Tekanan Darah Tinggi) - Gejala, Penyebab, dan Mengobati

Jaminan Kesehatan Nasional/BPJS - 21 Oct 2024 Oleh Diaz

1.324 Kali Dibaca

Apa itu Hipertensi?
Hipertensi, atau tekanan darah tinggi, adalah kondisi medis di mana tekanan darah di dalam pembuluh darah meningkat secara kronis. Kondisi ini berbahaya karena dapat memicu masalah kesehatan serius seperti penyakit jantung, stroke, dan gagal ginjal. Tekanan darah diukur dengan dua angka, yaitu tekanan sistolik (ketika jantung memompa darah) dan diastolik (ketika jantung beristirahat antara denyutan). Tekanan darah normal biasanya berada di bawah 120/80 mmHg. Jika tekanan darah Anda secara konsisten berada di atas angka tersebut, Anda mungkin mengalami hipertensi.

Gejala Hipertensi
Hipertensi sering disebut sebagai "silent killer" karena banyak orang tidak menyadari bahwa mereka mengidapnya, terutama pada tahap awal. Gejala hipertensi sering kali tidak muncul sampai tekanan darah sudah sangat tinggi atau telah menyebabkan komplikasi. Namun, beberapa gejala yang bisa muncul adalah:

  1. Sakit kepala parah: Ini bisa terjadi jika tekanan darah sangat tinggi.
  2. Pusing atau merasa lelah: Hipertensi yang tidak terkendali dapat menyebabkan pusing dan kelelahan.
  3. Sesak napas: Tekanan darah tinggi yang kronis bisa menyebabkan ketegangan pada jantung, menyebabkan sesak napas.
  4. Nyeri dada: Rasa nyeri atau ketidaknyamanan di dada bisa terjadi jika hipertensi telah memengaruhi jantung.
  5. Gangguan penglihatan: Hipertensi yang parah dapat memengaruhi pembuluh darah di mata, menyebabkan pandangan kabur atau bahkan kehilangan penglihatan.
  6. Detak jantung tidak teratur: Denyut jantung yang tidak normal atau cepat bisa menjadi tanda bahwa jantung bekerja terlalu keras.

Penyebab Hipertensi
Hipertensi dapat terjadi karena beberapa faktor. Secara umum, ada dua jenis hipertensi:

  1. Hipertensi primer: Jenis ini berkembang secara bertahap seiring waktu tanpa penyebab yang jelas. Faktor gaya hidup seperti pola makan, aktivitas fisik, dan stres dapat memengaruhi hipertensi primer.

  2. Hipertensi sekunder: Jenis ini disebabkan oleh kondisi medis atau penggunaan obat-obatan tertentu. Penyebab hipertensi sekunder antara lain:

    • Penyakit ginjal: Masalah pada ginjal dapat meningkatkan tekanan darah.
    • Gangguan tiroid: Kondisi seperti hipertiroidisme atau hipotiroidisme bisa menyebabkan tekanan darah tinggi.
    • Penggunaan obat-obatan tertentu: Obat-obatan seperti pil KB, obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID), dan obat-obatan dekongestan dapat memicu hipertensi.
    • Apnea tidur: Gangguan pernapasan selama tidur dapat menyebabkan peningkatan tekanan darah.

Beberapa faktor risiko hipertensi yang tidak bisa dihindari antara lain:

  • Usia: Semakin tua, risiko hipertensi semakin tinggi.
  • Riwayat keluarga: Jika ada anggota keluarga yang memiliki hipertensi, Anda juga berisiko.
  • Jenis kelamin: Pada usia muda hingga paruh baya, pria lebih berisiko. Namun, setelah menopause, risiko pada wanita meningkat.

Cara Mengobati Hipertensi
Pengobatan hipertensi bertujuan untuk mengontrol tekanan darah agar tetap dalam batas normal dan mencegah komplikasi. Perawatan ini biasanya melibatkan kombinasi antara perubahan gaya hidup dan penggunaan obat-obatan. Berikut beberapa cara untuk mengelola dan mengobati hipertensi:

  1. Perubahan Gaya Hidup

    • Pola makan sehat: Mengadopsi pola makan sehat, seperti diet DASH (Dietary Approaches to Stop Hypertension), yang kaya akan buah, sayur, biji-bijian, serta rendah garam dan lemak jenuh.
    • Mengurangi konsumsi garam: Mengurangi asupan garam dapat membantu menurunkan tekanan darah. Usahakan mengonsumsi kurang dari 2.300 mg garam per hari, atau lebih sedikit jika memungkinkan.
    • Olahraga teratur: Aktivitas fisik seperti berjalan, berlari, atau berenang dapat membantu menurunkan tekanan darah dan meningkatkan kesehatan jantung.
    • Menjaga berat badan: Kelebihan berat badan meningkatkan risiko hipertensi. Menurunkan berat badan sebanyak 5-10% dapat memiliki dampak positif pada tekanan darah.
    • Menghindari alkohol dan rokok: Alkohol dapat meningkatkan tekanan darah, dan merokok memperburuk kerusakan pembuluh darah, sehingga meningkatkan risiko hipertensi.
  2. Penggunaan Obat-Obatan
    Jika perubahan gaya hidup tidak cukup, dokter mungkin akan meresepkan obat-obatan untuk mengontrol tekanan darah. Beberapa jenis obat yang sering digunakan untuk mengatasi hipertensi meliputi:

    • Diuretik: Membantu ginjal mengeluarkan kelebihan natrium dan air dari tubuh.
    • Beta-blocker: Mengurangi beban kerja jantung dengan memperlambat denyut jantung.
    • ACE inhibitor: Menghambat pembentukan angiotensin, suatu zat kimia yang mempersempit pembuluh darah.
    • Calcium channel blockers: Mengendurkan pembuluh darah dengan mencegah kalsium masuk ke dalam sel-sel otot jantung dan pembuluh darah.
    • ARBs (Angiotensin II receptor blockers): Bekerja mirip dengan ACE inhibitor tetapi dengan cara yang berbeda.
  3. Pemantauan Teratur
    Mengukur tekanan darah secara rutin sangat penting bagi penderita hipertensi. Hal ini dapat dilakukan di rumah menggunakan alat pengukur tekanan darah digital. Pemantauan teratur membantu memastikan bahwa tekanan darah tetap terkendali.

Pencegahan Hipertensi
Mencegah hipertensi bisa dilakukan dengan perubahan gaya hidup sehat, termasuk:

  • Mengadopsi pola makan seimbang dengan membatasi konsumsi makanan tinggi garam dan lemak.
  • Berolahraga secara teratur untuk menjaga kesehatan jantung dan pembuluh darah.
  • Mengelola stres melalui teknik relaksasi seperti meditasi, yoga, atau hobi yang menyenangkan.
  • Memastikan berat badan tetap ideal sesuai dengan indeks massa tubuh yang sehat.

Hipertensi adalah kondisi yang sering kali tidak menunjukkan gejala tetapi bisa berakibat fatal jika tidak diobati. Oleh karena itu, sangat penting untuk melakukan pemeriksaan tekanan darah secara rutin, menerapkan gaya hidup sehat, serta mendapatkan pengobatan yang tepat jika didiagnosis dengan hipertensi. Jika Anda memiliki riwayat keluarga atau faktor risiko lain, diskusikan dengan dokter untuk pencegahan dan penanganan yang tepat.


Bagikan Artikel Ini