Jadwal Buka : Setiap Hari Pagi: 06.00 - 13.00, Siang: 14.00 - 20.00
info@klinikkeluarga.com
0263 513513
7 Mitos Seputar USG Kehamilan yang Masih Banyak Dipercaya
Persalinan - 15 Jam Lalu Oleh Diaz
17 Kali DibacaFam, pernah dengar kalau terlalu sering USG bisa membahayakan janin? Atau mungkin ada yang bilang USG kehamilan hanya perlu dilakukan kalau ibu sedang mengalami keluhan? Nyatanya, masih banyak informasi seputar USG kehamilan yang beredar dari keluarga, teman, bahkan media sosial dan belum tentu benar. Padahal, USG merupakan salah satu pemeriksaan yang umum dilakukan selama kehamilan untuk membantu dokter memantau perkembangan janin dan kondisi kehamilan. American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG) menjelaskan bahwa USG menggunakan gelombang suara untuk menghasilkan gambaran kondisi di dalam tubuh, termasuk melihat janin di dalam rahim.
Mitos pertama, “USG terlalu sering bisa membuat janin mengalami gangguan.” Kekhawatiran ini cukup sering muncul, terutama pada ibu hamil yang membutuhkan pemeriksaan USG lebih dari satu kali. Sampai saat ini, tidak ada bukti bahwa USG diagnostik yang dilakukan secara tepat oleh tenaga kesehatan menyebabkan cacat lahir, kanker pada masa kanak-kanak, atau gangguan perkembangan. Namun, bukan berarti USG boleh dilakukan sembarangan hanya untuk melihat kondisi bayi berulang kali tanpa alasan medis. ACOG menyarankan pemeriksaan dilakukan untuk alasan medis dan oleh tenaga kesehatan yang kompeten.
Mitos kedua, “USG hanya diperlukan kalau ibu hamil mengalami keluhan.” Faktanya, USG tidak hanya digunakan ketika ada masalah. Pemeriksaan ini juga dapat membantu memantau perkembangan kehamilan meskipun ibu merasa sehat dan tidak memiliki keluhan. Melalui USG, tenaga kesehatan dapat melihat beberapa hal seperti usia kehamilan, jumlah janin, posisi janin, perkembangan fisik, detak jantung, jumlah air ketuban, hingga lokasi plasenta. Karena itu, merasa sehat bukan berarti pemeriksaan kehamilan bisa dilewatkan begitu saja.
Mitos ketiga, “Kalau hasil USG bagus, berarti kehamilan pasti 100 persen aman.” Nah, ini juga perlu diluruskan, Fam. USG memang memberikan banyak informasi penting, tetapi bukan berarti bisa mendeteksi seluruh kemungkinan masalah dalam kehamilan. Ada kondisi tertentu yang membutuhkan pemeriksaan lain, seperti pemeriksaan darah, urine, tekanan darah, atau evaluasi lanjutan sesuai kondisi ibu dan janin. Jadi, hasil USG yang baik tentu menjadi kabar yang melegakan, tetapi tetap perlu diikuti dengan pemeriksaan kehamilan secara rutin sesuai anjuran tenaga kesehatan.
Mitos keempat, “USG pasti bisa menunjukkan jenis kelamin bayi.” Banyak calon orang tua yang sudah tidak sabar mengetahui apakah si kecil laki-laki atau perempuan. Memang, USG dapat membantu memperkirakan jenis kelamin apabila posisi janin memungkinkan untuk terlihat. Namun, hasilnya tidak selalu bisa dipastikan hanya dari satu pemeriksaan. ACOG juga menjelaskan bahwa jenis kelamin dapat terlihat apabila posisi janin mendukung. Jadi, kalau si kecil sedang membelakangi atau menutup bagian tubuh tertentu, jangan heran kalau dokter belum bisa memberikan jawaban yang pasti.
Mitos kelima, “Semakin canggih jenis USG, semakin pasti tidak ada masalah pada bayi.” Saat ini kita mengenal berbagai teknologi USG, termasuk pemeriksaan dengan tampilan 2D, 3D, maupun 4D. Namun, kecanggihan tampilan gambar bukan berarti pemeriksaan tersebut otomatis dapat mendeteksi semua kondisi. Setiap jenis pemeriksaan memiliki fungsi dan indikasi masing-masing. Yang paling penting bukan sekadar mendapatkan gambar bayi yang bagus untuk disimpan, tetapi memastikan pemeriksaan dilakukan sesuai kebutuhan medis dan hasilnya dinilai oleh tenaga kesehatan yang kompeten.
Mitos keenam, “USG baru penting dilakukan saat usia kehamilan sudah besar supaya bayinya terlihat jelas.” Padahal, pemeriksaan USG pada awal kehamilan juga dapat memberikan informasi penting. WHO merekomendasikan satu pemeriksaan USG sebelum usia kehamilan 24 minggu untuk membantu memperkirakan usia kehamilan, mendeteksi kehamilan kembar dan beberapa kelainan janin, serta memberikan manfaat lain dalam pemantauan kehamilan. Jadi, bukan berarti harus menunggu perut membesar dulu baru melakukan USG.
Mitos ketujuh, “Kalau sudah USG sekali, pemeriksaan berikutnya tidak terlalu penting.” Ini juga tidak selalu benar. Kebutuhan USG dapat berbeda pada setiap ibu hamil dan bergantung pada kondisi kehamilan, usia kehamilan, hasil pemeriksaan sebelumnya, serta pertimbangan dokter. WHO merekomendasikan pemeriksaan USG sebelum 24 minggu dalam konteks pelayanan antenatal, sementara pemeriksaan selanjutnya dapat dipertimbangkan sesuai kebutuhan klinis. Artinya, jadwal USG bukan sesuatu yang bisa disamaratakan untuk semua ibu hamil.
Pada akhirnya, Fam tidak perlu langsung percaya begitu saja pada informasi seputar kehamilan yang beredar di media sosial atau dari cerita orang lain. Setiap kehamilan punya kondisi yang berbeda, sehingga pemeriksaan dan kebutuhan setiap ibu juga bisa berbeda. Kalau Family masih punya pertanyaan seperti kapan waktu yang tepat untuk USG, seberapa sering perlu dilakukan, atau apa saja yang perlu dipersiapkan sebelum pemeriksaan, jangan ragu untuk menanyakannya langsung kepada dokter kandungan. Informasi yang tepat akan membantu membuat perjalanan kehamilan terasa lebih tenang dan terarah. Untuk informasi tambahan mengenai pemeriksaan USG selama kehamilan, Family juga bisa membaca panduan dari ACOG tentang Ultrasound Exams dan WHO tentang USG sebelum 24 minggu kehamilan. Dengan memahami fakta di balik USG kehamilan, Family bisa lebih bijak membedakan mana informasi yang benar dan mana yang hanya mitos.
Bagikan Artikel Ini